Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura (FMIPA Untan) adakan Webinar Studium General tentang sisi baik dan buruknya Komposisi Kimia pada Marine Fish. Webinar tersebut dilaksanakan secara daring melalui Aplikasi Zoom Meeting, Kamis (04/06/2020).
Webinar Stadium General dihadiri kurang lebih 70 peserta, mereka adalah mahasiswa/i FMIPA Untan dan peserta umum yang berasal dari luar Untan. Hadir pula Mitra Strategis dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat, Civitas Akademika FMIPA Untan dan Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H.,M.Si., FCArb.
Acara Webinar dibuka oleh Rektor Universitas Tanjungpura, dalam sambutannya ia turut mengapresiasi dan mendukung pelaksanaan Webinar tersebut. Menurutnya, tema Webinar yang berkaitan dengan komposisi kimia pada ikan tersebut sangat relevan untuk didiskusikan ditengah pandemi saat ini, karena gizi dan protein yang ada pada ikan merupakan satu diantara kebutuhan hidup sehat sekarang ini.
Webinar dimoderatori oleh Dr. Andi Hairil Alimuddin, M.Si, Ketua Jurusan dan Dosen Kimia FMIPA Untan; dan Nora Idiawati, M.Si, Ketua Jurusan dan Dosen Ilmu Kelautan FMIPA Untan. Sedangkan yang menjadi narasumbernya adalah Prof. Dr. Nurul Huda, Guru Besar Faculty of Food Science and Nutrition Universiti Malaysia Sabah.
Materi webinar dibagi menjadi dua sesi; yaitu Chemistry of Marine Fish and Aquacultures Products yang dimoderatori oleh Pak Andi, Marine Fish Toxicology:Focus on Seafood Poisoning oleh Bu Nora.
Menurut Profesor Huda, dua materi yang disampaikannya itu diambil dari sisi baik dan buruknya komposisi kimia yang ada pada ikan, Marine Fish.
Pada materi pertama, Profesor Huda mengupas tentang perbedaan komposisi kimia (Protein, lemak, dan karbohidrat) pada ikan (Marine Fish) dengan daging produksi Aquacultures seperti daging ayam, lembu, sapi dan yang lainnya. Ia juga memaparkan jenis-jenis protein pada ikan dan fungsi dari proteinnya.
Diakhir materi, ia mengajak peserta untuk mempromosikan dan makan ikan, karena ikan banyak gizinya.
Ada 4 poin yang ditekankannya diakhir materi; pertama, variasi dari komposisi kimia dan kualitas dari Marine Fish berbeda-beda, tergantung pada lingkungan geografis, spesies, ukuran tubuh, waktu, dan tingkat kematangannya. Berbeda dengan daging produksi Aquacultures yang bersifat Livestock, komposisi dagingnya tetap sama walaupun diproduksi dari lingkungan ataupun waktu yang berbeda.
Poin kedua adalah protein pada ikan lebih baik daripada protein daging livestocks dan tumbuhan. Selanjutnya, lemak Omega 3 pada ikan sangat baik untuk kesehatan tubuh; dan yang terakhir, jumlah yodium dan kalsium yang besar juga ada pada ikan.
Saat menjawab pertanyaan peserta, Profesor Huda menyarankan agar peserta dapat mengkonsumsi ikan sebagai suplai gizi untuk kesehatan tubuh ditengah wabah ini. Profesor yang sempat mengenyam pendidikan magister S2 di Institut Pertanian Bogor ini juga menyarankan, jika kita mendapatkan ikan yang segar haruslah segera disimpan disuhu yang rendah agar kualitas dari komposisi kimia ikan tersebut tidak turun.
"Ikan akan mengalami denutrition (penurunan nutrisi) jika tidak segar lagi, maka dari itu ikan yang segar harus disimpan disuhu yang rendah" jawabnya.
"Functional structure dari protein ikan juga hilang jika ikannya tidak segar lagi" tambah Profesor.
Senada dengan ajakan Profesor Huda, Rektor Untan juga mengkampanyekan makan ikan dan mendorong riset sumber daya perikanan di Kalimantan Barat. Menurutnya, Indonesia terdiri dari ⅔ perairan, sehingga akademisi yang berada diranah tersebut perlu melakukan eksplorasi sumber daya alam di perairan agar ketersediaan protein dalam ikan dapat dengan mudah diperoleh.
Selanjutnya pada materi kedua, Profesor Huda memaparkan toxic (racun) yang ada pada ikan, sisi buruknya Marine Fish. Ia mengungkapkan bahwa keracunan yang sering terjadi saat mengkonsumsi ikan terjadi akibat masih kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap jenis-jenis ikan yang memiliki toxic dan masih kurangnya edukasi tentang pengolahan konsumsi daripada ikan tersebut.
Manusia yang sensitif juga akan cenderung lebih mudah mengalami alergi jika mengkonsumsi racun yang terdapat pada ikan. Selain dari dalam ikan, racun tersebut juga dapat berasal dari ikan yang sudah menurun kualitasnya, ikan yang tidak segar.